Tanggapan Atas Surat Pembaca KOMPAS 16 Oktober 2007

Yth Mas Rangga Singotrunan, Banyuwangi, Jawa Timur .
Pertama kali atas nama PT Kereta Api (Persero) kami menyampaikan terima kasih atas informasi anda sebagaimana dimuat pada rubrik “Surat Pembaca” H.U Kompas (16/10) berjudul: “Pemalak Berkedok Pengamen di Kereta Kelas Ekonomi” yang mengakibatkan kenyamanan anda dan sejumlah penumpang KA Ekonomi yang lain menjadi terganggu.
Terkait dengan hal tersebut perlu kami informasikan bahwa pada setiap KA Ekonomi telah kami tugaskan 2 (dua) orang aparat keamanan (Polri) serta Polsuska. Hanya saja jumlah mereka yang terbatas, sehingga tidak dapat memantau secara keseluruhan rangkaian KA secara sekaligus. Mereka biasanya selalu bergerak (mobile) ke seluruh rangkaian KA, bahkan saat KA berhenti mereka mengawasi kemungkinan adanya hal-hal yang berdampak pada gangguan kenyamanan bagi penumpang KA.
Tentang adanya pengamen yang membawa senjata tajam sebagaimana anda tuturkan, kami akan dengan segera melakukan langkah-langkah preventif, berkerjasama dengan aparat Kepolisian setempat. Karena tindakan ini tidak hanya menganggu keamanan dan kenyamanan bagi penumpang KA, tetapi juga mengganggu keamanan secara umum. Bahkan dapat dikategorikan sebagai bagian dari tindakan “terror” yang dapat dikenai sanksi pidana.
Terlepas dari hal-hal tersebut, apapun upaya yang kami lakukan tentu masih perlu dukungan dan partisipasi penumpang KA dengan menggalang kebersamaan untuk ikut memerangi tindakan yang tidak terpuji tersebut. Hal ini sebagaimana sudah terwujud pada beberapa KA Ekonomi, dimana penumpang KA membangun kebersamaan menjadi satu komunitas, sehingga ancaman terhadap penumpang tertentu dipandang sebagai ancaman bagi keseluruhan komunitas penumpang KA. Ada rasa senasib sepenangungan. Semoga !!
Bandung, 16 Oktober 2007
Kabid Humas PT KA
Noor Hamidi
Pemalak Berkedok Pengamen di Kereta Kelas Ekonomi
Akhir-akhir ini saya sering naik kereta api ekonomi jurusan Solo-Jakarta. Dalam setiap perjalanan saya menemukan hal menarik. Saat tengah malam kereta api berhenti cukup lama di Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah. Saat itu dalam sekejap kereta api mulai ramai oleh pengamen. Rupanya mereka bukan sekadar pengamen biasa, melainkan juga berprofesi ganda sebagai pemalak.
Sambil menyanyikan tembang kenangan, mereka pun mulai mencari mangsa. Sasaran utama adalah remaja belasan tahun dan kaum hawa. Umumnya saat mengamen mereka terbagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari minimal dua orang. Satu orang bertugas bernyanyi sambil memainkan alat musik, sementara yang lainnya memaksimalkan tujuan utama mereka menjadi pengamen sekaligus pemalak.
Tidak sedikit pemalak yang beroperasi di kereta api kelas ekonomi ini yang membawa senjata tajam guna memuluskan aksi mereka. Hal ini terbukti karena saya mendapati pemuda berusia belasan tahun yang mengaku telah ditodong pisau saat hendak pergi ke toilet kereta. Alhasil lembaran uang di saku celana pemuda itu habis dikuras pemalak yang berkedok pengamen. Bagaimana peran aparat keamanan kereta api saat kejadian?
Saya juga pernah mendapati seorang korban pemalakan yang mengonfirmasikan hal tersebut kepada petugas kereta api yang kebetulan bertugas pada waktu itu. Dengan enaknya, petugas tersebut menjawab bahwa di kereta api ekonomi tidak ada aparat keamanan. Aparat keamanan hanya ada di kereta api kelas bisnis dan kereta api eksekutif.
Sungguh ironis. Saya berharap pihak yang berwenang bisa memberantas pengamen yang berfungsi ganda sebagai pemalak yang beroperasi pada tengah malam di kereta api ekonomi. Rangga Singotrunan, Banyuwangi, Jawa Timur