Seksi Properti DAOP I Mendapat Penilaian Kinerja Terbaik
Melalui forum Excecutive Meeting jajaran Divisi Properti di Cipanas, Garut, Seksi Properti Daop I Jakarta mendapat penilaian terbaik atas pencapaian kinerjanya pada tahun 2006. Atas prestasi tersebut, Kepala Divisi Properti, Heru Susetyo menyerahkan Trophy Kinerja terbaik kepada Kepala Seksi Properti Daop I, Daud Roma Andilolo pada session akhir forum Excecutive Meeting di Cipanas, Garut (18/4). Sebelumnya, saat Andilolo mempresentasikan kinerja Seksi Properti Daop I Jakarta, Kadiv Properti telah menggarisbawahi hal-hal yang bernuansa positif terhadap pencapaian kinerja. “Saya sangat apresiate terhadap paparan halaman 7, yang diharapkan dapat dicontoh oleh Seksi Properti yang lain,” tegas Heru mengomentari presentasi Andilolo yang apik, menampilkan data secara transparan selama periode tiga tahun terakhir, sehingga secara langsung bisa menjadi media untuk pembanding (komparasi) sekaligus sebagai media untuk melakukan evaluasi.
Meskipun demikian, terhadap pemasaran bisnis periklanan, Heru ketika itu mengingatkan Andilolo dan jajaran Seksi Properti di Daop I Jakarta untuk lebih agresif lagi dalam menjual potensi yang ada. Sebab, lanjut Heru, wilayah Seksi Properti di Daop I Jakarta itu umumnya potensial, bernilai tinggi secara komersial. “Rencana perluasan kantor Kedubes Amerika Serikat akan menyewa lahan milik PT KA untuk masa 20 tahun ke depan. Kami harapkan ini dapat direalisasikan secepatnya, sehingga dapat menjadi andalan pendapatan Seksi Properti Daop I pada tahun 2007,” ujar Heru seraya mengatakan bahwa Seksi Properti Daop I Jakarta seharusnya punya program pendapatan yang lebih besar, karena ada empat potensi besar untuk menjadi andalan pendapatan pada tahun 2007. Tentng kekurangan SDM di Seksi Properti, Heru lebih lanjut mengharapkan agar apa yang menjadi Pilot Proyek di Seksi Properti Daop I dapat segera diwujudkan. “Penanganan tagihan persewaan melalui kerjasama dengan BRI diharapkan segera diwujud kan, yang tidak menutup kemungkinan pola ini dapat diterapkan di Seksi Properti lainnya,” tambah Heru.
Untuk mendukung tercapainya program pendapatan masing-masing Seksi Properti, Heru mengharapkan agar SDM yang terbatas dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Antara lain menurutnya bisa dilakukan dengan melakukan pembagian wilayah Manajer Area secara proporsional. Dicontohkan Heru antara Manajer Area di Magelang dan di Yogyakarta, Seksi Properti Daop VI, luas aset di lintas Magelang yang notabene lebih luas, tetapi kurang memberikan konstribusi pendapatan. “Ini perlu dikaji lebih mendalam lagi, mungkin karena rentang kendali pengawasan demikian luasnya, sehingga tidak mampu menangani secara keseluruhan. Pemetaan hendaknya tidak dilakukan atas dasar geografis aset, tetapi juga potensi serta permasalahan yang ada,” jelas Kadiv Properti. “Hal seperti ini diharapkan juga menjadi perhatian serius pada Kepala Seksi Properti di Daop lain dalam mendistribusikan beban tugas kepada para Manajer Area,” tambah Heru yang juga mengharapkan para Kasi Properti senantiasa membangun hubungan baik dengan jajaran Pemda terkait, sehingga permasalahan yang timbul dapat diatasi dengan mudah.
Sebelumnya, Esron Pakpahan, Kabag Pemasaran Divisi Properti yang juga merangkap Kepala Sub Divisi Properti dan Periklanan memapatkan kinerja Properti dan Periklanan tahun 2006 belum mencapai program. Ini menurut Esron akibat adanya sejumlah potensi pendapatan KSO yang diproyeksikan menjadi pendapatan pada tahun 2006 tidak terealisir akibat adanya kebijakan Legal Audit. Sebagian kontrak KSO sudah lolos dari Legal Audit, sehingga diharapkan dapat ditindaklanjuti pada proses berikutnya, antara lain 14 objek KSO dengan prospek pasokan pendapatan Rp 41,2 Milyar. “Kontrak KSO yang semula diprediksi akan cair pada tahun 2006 tidak terealisir akibat adanya legal audit Tidak hanya itu, uang yang sudah masuk sebagai Commitment Fee senilai Rp 1,85 Milyar juga dikembalikan lagi kepada calon investor,” jelas Esron memaparkan bidangnya Yayat Rustandi, yang kini menjadi Kadaop III Cirebon. “Kerja sama dengan pihak ketiga dihadapkan dengan banyak kendala, yang diharapkan kendala ini dapat dipangkas kalau Divisi Properti ini bisa menjadi anak perusahaan properti,” tambah Esron Pakpahan.
Terkait dengan legal audit, Esron mengemukakan tidak jelasnya kerangka acuan atau TOR antara PT KA dengan Lawyers yang ditunjuk. Pokoknya semua kontrak diaudit kelegalannya. Akibatnya, ada calon investor yang sudah membayar kewajibannya Tahap I dan Tahap II, ketika jatuh tempoh untuk membayar Tahap III senilai Rp 6,9 Milyar tidak dibayar. Masalah tidak jelasnya TOR ini dibenarkan Heru, sehingga ada kesan tidak ada kejelasan siapa sesungguhnya yang menghandel proses legal audit tersebut. Heru selanjutnya juga meminta agar pembayaran sewa rumah dinas yang selama ini ditangai di kantor Divisi Properti dialihkan pembayarannya ke Seksi Properti Daop II Bandung. “Kasihan juga para pensiunan yang akan membayar sewa, mereka harus naik ke lantai III. Tapi tolong Kasi Properti Daop II juga bisa merevisi program pendapatan Tahun 2007 karena adanya tambahan pendapatan dari limpahan ini,” ujar Kadiv Properti