Dukungan Berbagai Pihak Tentukan Sukses Angkutan Lebaran

Dalam penyelenggaraan angkutan lebaran tahun 2007 PT KA tetap memprioritaskan angkutan KA di Jawa, karena memang di Jawalah peranan KA Lebaran sangat dirasakan manfaatnya. Waktu penyelenggaraan ditetapkan selama 16 hari, yaitu: Pra Lebaran 6 s/d 12 Oktober 2007; Lebaran 13 dan 14 Oktober 2007; serta Purna Lebaran 15 s/d 21 Oktober 2007. Demikian dikemukakan Direktur Operasi PT KA, Sudarmo Ramadhan saat berbuka bersama dengan jajaran wartawan kota Bandung (3/10). Didampingi Kabid Humas PT KA, Noor Hamidi, Kasubdit Pemasaran Angkutan Penumpang, Patria Suprijoso, Kasubdit Lalulintas, Bambang Irawan dan Kasubdit Pemasaran Angkutan Barang, Sudarjono, Sudarmo berharap kepada jajaran Pers untuk ikut membantu suksesnya pelaksanaan angkutan lebaran 2007 dengan menyampaikan informasi seputar angkutan lebaran kepada masyarakat.
Meskipun persiapan penyelenggaraan angkutan lebaran tahun ini relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun Sudarmo tetap mengharapkan dukungan berbagai pihak demi suksesnya penyelenggaraan angkutan lebaran 2007 ini. ”Apapun upaya dan persiapan yang telah dilakukan PT KA, tanpa peran serta dan dukungan semua pihak yang berkompeten, tidak menutup adanya kekurangan dan kelemahan dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, kepada semua pihak yang berkompeten, kami berharap adanya dukungan yang positif,” ujar Sudarmo. Kesiapan prasarana menurut Sudarmo sudah dikoordina sikan secara intens dengan Ditjen Perkeretaapian melalui sejumlah Satuan Kerja Peningkatan dan Pengembangan Prasarana Perkeretaapian, baik di Jabar, Jateng maupun Jatim. Selama masa angkutan lebaran pihak Satker menghentikan aktivitasnya, sehingga bagian jalan rel yang dibatasi kecepatan jelajahnya juga tidak ada.
Selain itu, lanjut Sudarmo, intensitas pemeriksaan prasarana, baik jalan rel, jembatan, maupun terowongan juga dilakukan dengan cara meningkatkan frekuensi Juru Periksa Jalan. Di tempat-tempat yang rawan bencana alam, banjir dan longsor, PT KA juga mempersiapkan Alat Material Untuk Siaga (AMUS) di tempat-tempat tertentu, sehingga bila terjadi gangguan pada bagian jalan KA (banjir, longsor dll), penanggulangannya dapat segera dilakukan. Demikian juga halnya di perlintasan sebidang, PT KA akan meningkatkan penjagaan. Tidak hanya melibatkan pegawai organik PT KA, juga didukung dengan tenaga dari pihak Satker Prasarana, serta swadaya masyarakat. Event angkutan lebaran menurut Sudarmo juga akan dijadikan sebagai media untuk sosialisasi UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Penegasan Dirop PT KA ini dibenarkan Sinung Tri Nugroho, Kasi Jalan Rel dan Jembatan Daop II Bandung, Khusus di Daop II Bandung, Sinung meningkatkan jumlah tenaga Juru Pemeriksaan Jalan (JPJ) dari 179 orang menjadi 224 orang, ada tambahan JPJ Ekstra 45 orang, sehingga frekuensi pemeriksaan jalan rel juga bisa ditingkatkan.
Demikian juga terhadap penjaga perlintasan sebidang yang dikenal sebagai titik rawan kecelakaan. Menurut Kadaop II Bandung, Edy S Djokosewojo, PT KA juga akan menambah tenaga penjaga pintu perlintasan yang dinilai padat lalulintas dan rawan kecelakaan. Pemeriksaan intensif juga ditingkatkan terhadap jembatan, terowongan dan sejumlah titik rawan longsor. Tentang teknis operasi KA, sebagai komandan di Daop II Edy akan fokus pada arus mudik ke arah timur. ”Beberapa KA ke arah timur akan kami maksimalkan daya angkutnya. KA Penumpang tertentu yang menuju ke Timur akan ditarik dengan dua Lok, sehingga mampu menarik kereta dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan ditarik dengan satu Lok. Untuk kebutuhan armada, pada masa pra lebaran, sejumlah kereta dari KA Argogede dan Parahiyangan Bandung – Jakarta, juga akan kami relokasikan ke arah Timur,” ujar Edy didampingi Kahumasda Daop II, Mateta Rijalulhaq.
Lebih jauh Sudarmo memaparkan, untuk mendukung Operasi KA Lebaran 2007, PT KA mempersiapkan 188 Lok, termasuk didalamnya 18 Lok Cadangan yang akan disiagakan di Cikampek, Banjar, Prupuk, Semarangponcol, Pekalongan, Kutoarjo, Solo Balapan dan Kertosono. Sedangkan jumlah kereta 1.244 terdiri dari Eksekutif, Bisnis dan Ekonomi. Jumlah tempat duduk tersedia 123.658 Tempat Duduk/hari, terdiri dari 26.506 T.D Eksekutif, 38.262 TD Bisnis dan 58.890 TD Ekonomi. Tetapi kalau dihitung dengan sejumlah KA Tambahan Lebaran, kapasitas angkut menjadi 139.644 TD, terdiri dari 28.918 TD Eksekutif, 42.728 TD Bisnis dan 67.998 TD Ekonomi. ”Pada prinsipnya, kapasitas angkut yang kami sediakan sudah diatas perkiraan jumlah penumpang KA Lebaran yaitu 16.888 TD Eksekutif, 28.942 TD Bisnis dan 73.479 TD Ekonomi. Sedangkan perkiraan jumlah penumpang Lebaran 2007 ini 119.399 TD/hari,” ujar Sudarmo.
Terkait soal kenyamanan, Noor Hamidi mengakui kalau selama masa angkutan lebaran layanan KA akan diwarnai dengan ”5 Tidak,” tidak tepat waktu, tidak nyaman, tidak bersih, tidak tertib, tidak tak terbatas (untuk KA kelas Bisnis). ”Meskipun demikian, soal keamanan akan kami optimalkan dengan melibatkan aparat keamanan setempat, bahkan selama dalam perjalanan juga kami persiapkan petugas keamanan untuk melakukan pengawalan KA,” ujar Noor yang juga berharap agar masyarakat tidak cemas atas pemberitaan telah habisnya tiket KA. Sebab, PT KA akan melakukan operasi pasar secara dadakan dengan menjalankan KA Tambahan Lebaran. ”Saat ini yang sudah dijual adalah tiket untuk perjalanan KA Reguler, sedangkan tiket KA Tambahan Lebaran belum dijual, ada 14 KA Tambahan Lebaran yang kami persiapkan, baik kelas Eksekutif, Bisnis maupun kelas Ekonomi. Kami baru akan menjual tiket KA Tambahan Lebaran ini bila terlihat ada ledakan penumpang, yang diperkirakan tidak tertampung dengan KA Reguler,” tambah Noor.
Soal percaloan tiket, Noor mengakui kemungkinan itu memang bisa saja terjadi. Tetapi menurutnya, ruang gerak percaloan sekarang ini semakin sempit, karena konsentrasi pelayanan penjualan tiket sudah disebar. Pusat reservasi tiket di Juanda (Jakarta) sekarang sudah ditiadakan, tiket selain dapat dibeli di 8 stasiun di sekitar Jakarta, juga dapat dibeli pada 10 Agen yang juga menyebar di Jakarta. ”Percaloan marak kalau masyarakat yang akan mudik sulit mengakses pembelian tiket, sekarang tidak lagi, tiket bisa dibeli di 18 titik pelayanan di seantero DKI Jakarta,” jelas Noor. Dikatakan juga, dengan berlakunya UU 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, PT KA dapat mengambil tindakan terhadap oknum yang melakukan praktek percaloan. Dulu calo yang tertangkap tidak dapat ditindak, tetapi karena tidak ada legitimasi yang kuat, sehingga gampang dilepas. Sekarang kami sudah punya payung hukum untuk menindak calo, yaitu Pasal 184, yang berbunyi: ”Setiap orang dilarang menjual karcis Kereta Api di luar tempat yang telah ditentukan oleh penyelenggara Sarana Perkeretaapian.” Sanksi pidananya diatur pada Pasal 208 yang berbunyi: ”Setiap orang yang menjual karcis kereta api di luar tempat yang telah ditentukan oleh penyelenggara sarana perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada Pasal 184, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan.
Menurut Noor, sukses penyelenggaraan angkutan lebaran memerlukan dukungan berbagai pihak, oleh karena itu PT KA berharap kepada: Calon penumpang KA, agar: (a) Tidak mengenakan perhiasan serta membawa barang bawaan (tentengan) secara berlebihan, serta tidak membeli tiket dari calo; (b) Melaporkan kepada petugas PT KA, bila ada oknum yang menawari tiket dengan harga tidak rasional dan tidak realistis; (c) Jangan mengambil tempat yang tidak menjadi tempat yang diperuntukkan bagi penumpang KA, misalnya di Lokomotif, di atap kereta, di persambungan kereta, terlebih di Kabin Masinis; (d) Waspada terhadap seseorang yang manawarkan jasa baik, memberi minuman mineral, karena tidak menutup kemungkinan akan berakibat pada pembiusan; (e) Segera beli tiket sejak sekarang juga untuk menghindari antrian panjang pada saat akan berpergian.
Sedangkan kepada masyarakat di sekitar jalan KA, diharapkan agar: (a) Tidak berbuat iseng dengan melempar kereta api yang sedang melaju, karena hal ini akan sangat membahayakan keselamatan penumpang, yang tidak tertutup kemungkinan mereka bagian dari saudara kita sendiri; (b) Tidak menjadikan areal sekitar lintasan KA, baik di stasiun maupun di jalan bebas sebagai tempat untuk bermain atau bercengkerama menantikan saatnya berbuka puasa atau ”Ngabuburit.” (c) Lebih waspada dan hati-hati saat akan melintasi rel KA. Ada atau tidak ada kereta api, kurangi kecepatan, bahkan BERHENTI pada tanda STOP, lihat kiri dan kanan, yakinkan tidak ada KA yang akan melintas, baru melintasi rel KA. ”Inilah sejumlah bentuk dukungan para pihak yang kami harapkan agar penyelenggaraan angkutan lebaran 2007 berjalan lancar, aman dan terkendali,” ujar Noor.