Archive for September, 2007

Kala Grafiti Mendapat Ruang

BIASANYA seni grafiti yang “mendiami” sejumlah tembok dan pilar di Kota Bandung menjadi musuh besar Dinas Pertamanan Pemkot Bandung. Coreng-moreng penuh warna itu sering kali tidak beraturan dan “singgah” di mana saja hingga akhirnya harus dibersihkan.
Namun, Jumat (28/9) kemarin, puluhan orang dibiarkan mengisi kekosongan tembok putih di jembatan Stasiun Timur Jln. Stasiun Timur Kota Bandung dengan cat berwarna-warni. Bahkan, masing-masing peserta ataupun kelompok diberi tempat khusus sebagai ”daerah kekuasaan” sehingga tidak saling mencaplok jatah orang lain.
Ternyata, sekitar 72 kelompok yang masing-masing terdiri atas 3-5 orang itu sedang mengikuti lomba grafiti yang digelar PT Kereta Api dalam rangka HUT ke-62 PT KA. Tema yang diambil dalam lomba itu yaitu stasiun pelangi, yang menggambarkan citra kereta api dalam memberi pelayanan bagi semua kalangan masyarakat.
Citra estetik dari “seni jalanan” itu, nyatanya digemari semua kalangan. Mereka yang ikut lomba berasal dari kalangan masyarakat umum, mahasiswa, seniman lukis, dan seniman jalanan. Tidak hanya itu, sejumlah siswa asing yang sedang mengikuti studi di STSI jurusan Seni Rupa juga ikut serta, di antaranya dari Serbia, Yunani, dan Italia.
Kata ”grafiti” berasal bahasa Italia, ”graffito”. Dalam bahasa Inggris, “graphic” dan bahasa Yunani “graphein” yang artinya “menulis”. Grafiti kemudian meluas menjadi manusia yang membuat tanda, ikon, seni gambar ataupun kata-kata.
Coretan yang dibuat untuk menyampaikan pesan tertentu ditampilkan dalam komposisi bentuk. Biasanya, itu dipilih oleh mereka yang sulit mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Setidaknya definisi itulah yang terpikirkan oleh Yudi, mahasiswa Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tentang seni grafiti.
Bersama ketiga rekannya, Yudi mengambil tema grafiti “Kereta Api Menuju Globalisasi”.
Dengan gambar kereta api besar, simbol globalisasi yang dimaksud yaitu keberadaan penumpang yang multietnis dan multiprofesi. Namun, melihat media tembok yang akan diberi coretan itu bertekstur, maka konsep yang sudah mereka pikirkan menjadi berubah. “Konsep yang udah dibuat jadi sulit diterapkan. Sekarang, kita bikin aja seadanya, itung-itung berekspresi lewat gambar yang kita bikin,” ujarnya.
Lain lagi tema yang diambil Rendra (30). Seniman lukis yang juga salah seorang murid almarhum pelukis ternama Barli Sasmitawinata itu menggambarkan grafiti dalam bentuk orang-orang yang sedang antre sambil main “kakaretaan” dengan tangan di pundak orang di depannya.
Menurut dia, hal itu menyimbolkan budaya antre yang dilakukan kereta api sejak dulu. “Sebanyak apa pun gerbong yang dimiliki kereta api, tetap saja mereka antre saat dijalankan dan tidak pernah ada yang berebutan ataupun saling menyalip. Filosofi itu yang harusnya juga dimaknai oleh para penumpangnya,” ungkap Rendra.
Peserta diberi waktu hingga Minggu (30/9) pukul 10.00 WIB untuk menyelesaikan grafitinya. Pemenangnya akan meraih Rp 5 juta. (Dikutip K.07 dari PR 29 Sept 07)

Comments

Ratusan Perlintasan Tanpa Penjaga

Polisi-PT KAI Inspeksi Jalur Kereta Api
KEDIRI- Perlintasan kereta api (KA), ternyata, masih banyak yang tidak memiliki pintu dan penjaga. Membuat perlintasan tersebut sangat berbahaya dan rentan menyebabkan kecelakaan lalu-lintas.

Kondisi itu ditemukan saat dilakukan inspeksi oleh Polresta Kediri bersama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dari Stasiun Kediri bersama Daerah Operasi (Daop) VII Madiun kemarin. Lokasi inspeksi adalah jalur KA di Kediri, Kertosono, dan Blitar. Total perlintasan tanpa pintu yang ditemukan sebanyak 250.

Menurut Kepala Resort Jalan dan Rel 74 Kediri Muhammad Sholeh, sepanjang jalur Kertosono, Kediri, dan Blitar, terdapat 268 perlintasan KA. Dari jumlah tersebut, hanya 18 yang berpintu dan berpenjaga. Sisanya, 250 perlintasan, tidak ada pintunya. Empat puluh perlintasan di antaranya disebut paling rawan.

“Kondisi jalannya aspal tapi tidak ada penjaganya. Makanya sangat rawan kecelakaan,” kata Sholeh, setelah ikut sidak hingga Stasiun Ngadiluwih.

Di Kota Kediri terdapat delapan perlintasan yang tidak ada penjaganya. Kondisi ini membuat Kapolresta AKBP Putu Jayan Danu Putra khawatir. Menurutnya, untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, PT KAI perlu melakukan koordinasi agar lintasan tersebut dijaga selama Lebaran.

Yang juga membahayakan, lanjut Putu, adalah kebiasaan warga menjemur kasur dan pakaian di sepanjang jalur KA. Selain menganggu perjalanan KA, hal itu dianggap membahayakan warga. “Masyarakat harus menghentikan kebiasaan tersebut karena sangat berbahaya,” pinta Putu.

Bagaimana dengan kondisi rel KA? Putu mengatakan, di beberapa jalur memang diperlukan perbaikan. Namun, secara umum PT KAI dianggap sudah serius menangani kerusakan ini.

Pengawas Operasi Daop 7 Madiun Koen Harijanto, yang kemarin juga ikut inspeksi, mengaku akan melakukan beberapa antisipasi agar transportasi melalui jalur KA aman dalam lebaran nanti. Untuk perlintasan yang belum dijaga, Koen mengatakan pihaknya akan segera melakukan koordinasi agar setiap pintu perlintasan dijaga sejak seminggu menjelang sampai seminggu setelah lebaran. “Nanti malam (tadi malam, Red) kami akan mengumpulkan seluruh kepala stasiun untuk mengkoordinasikan hal ini,” ungkap Koen.

Khusus untuk pengamanan stasiun, PT KA akan menyiagakan polisi khusus kereta api (Polsuska). Mereka juga akan berkoordinasi dengan kepolisian.

Inspeksi kemarin dilakukan mulai Stasiun Kota Kediri hingga Stasiun Ngadiluwih. Tim penginspeksi menggunakan kereta pemantau rel. Tidak hanya itu, tim juga memeriksa setiap KA yang berhenti di stasiun Kediri untuk mengukur kepadatan penumpang.

“Kepadatan penumpang belum begitu terasa. Biasanya akan ramai saat seminggu menjelang lebaran dan sesudahnya,” terang Kepala Stasiun Kediri Suparlan. (Dikutip K07 dari Jawa Pos 27/9/07)

Comments

PT. KA Sumut Siapkan 7.586 Tempat Duduk untuk Angkutan Lebaran

Untuk angkutan lebaran tahun 2007, PT Kereta Api (Persero) menyiapkan 7.586 tempat duduk per hari selama 22 hari masa angkutan lebaran. Persiapan mulai dilaksanakan sejak pra lebaran 03-12 Oktober, lebaran 13-14 Oktober dan purna lebaran 15-04 oktober 2007.
Demikian dikatakan Kepala Divisi Regional PT Kereta Api (Persero) Sumatera Utara Drs Mulianta Sinulingga MsTr melalui Kahumas H Hendro Budi Santoso kepada wartawan di kantornya, Jumat (28/9).
Menurutnya, berdasarkan rata-rata realisasi per hari jumlah penumpang pada masa angkutan lebaran 2006 (171.733 orang) dan perkiraan jumlah penumpang pada masa angkutan lebaran 2007 sekira 203.236 orang, diasumsikan terjadi peningkatan rata-rata 15,5 persen.
Untuk itu, pihaknya akan melakukan penambahan kapasitas angkutan untuk kelas bisnis dan ekonomi. “Toleransi penambahan penumpang diberikan untuk kereta kelas ekonomi dan bisnis antara 10-20 persen (non seat),” ujarnya.
Pada masa angkutan lebaran kali ini, PT. KA menetapkan kenaikan tarif untuk kereta Bisnis dan Eksekutif. Untuk kereta Bisnis tujuan Medan-Rantau Prapat sejak 3-24 Oktober tiket naik Rp 10 ribu atau dari Rp 40 ribu menjadi Rp 50 ribu. Untuk KA Eksekutif tujuan Medan rantau Prapat, pada 3-8 Oktober tiket naik Rp 10 ribu dari Rp 60 ribu menjadi 70 ribu, pada 9-16 Oktober naik Rp 15 ribu menjadi Rp 75 ribu dan pada 17-24 kembali turun menjadi Rp 70 ribu. Khusus untuk kereta Ekonomi PT. KA tidak menaikkan harga tiket.
BUKA POSKO
Lebih lanjut dikatakannya, dalam memantau dan mengawasi penyelenggaraan angkutan lebaran 2007, pihaknya juga membuka posko dan posko pembantu di setiap stasiun kereta seperti Stasiun Besar Medan, Stasiun Binjai, Stasiun Lubuk Pakam, Stasiun Tebing Tinggi, Stasiun Siantar, Stasiun Kisaran, Stasiun Rantau Prapat dan Stasiun Tanjung Balai. Pihaknya juga dibantu tenaga pengamanan dari unsur Polri dan Pramuka.
Untuk keamanan dan ketertiban, dia meminta agar penumpang tidak menempatkan diri di persambungan kereta atau cabin lokomotif, tidak membeli tiket dari siapapun selain dari loket, tidak memaksakan diri naik KA apabila telah penuh dan dianjurkan naik KA berikutnya, tidak membawa barang bawaan yang berlebihan serta tidak memakai perhiasan mencolok.
Sebagai bentuk kemudahan bagi penumpang, pembelian tiket sudah dilayani mulai 30 hari sebelum keberangkatan di lokasi pemesanan tiket Jalan Merak Jingga Medan dan pembelian langsung di stasiun saat keberangkatan.
HUT PT.KA
Sementara itu, pada upacara HUT ke-62 PT. KA, Jumat (28/9 pagi, Direktur Utama PT.KA Ronny Wahyudi dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Divisi Regional PT Kereta Api (Persero) Sumatera Utara Drs Mulianta Sinulingga MsTr menyatakan, saat ini perubahan lingkungan strategis perusahaan telah berkembang sangat cepat sehingga suasana persaingan semakin ketat. Kondisi ini memaksa perusahaan harus meningkatkan mutunya, efisiensi dan terpenting terus memperbaiki pelayanan kepada pelanggan.
Dalam kesempatanitu, dia mengingatkan seluruh jajaran PT KA selalu mengutamakan keselamatan dan pelayanan prima, khususnya saat lonjakan penumpang pada masa angkutan lebaran.(Dikutif K.07 dari H.U Analisa, 29/9/07)

Comments

SPKA Periksa Penumpang Liar di KA

Dewan Pengurus Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA) Divisi Regional I Sumut dan NAD mulai, Senin 25 (25/9) melakukan gebrakan pemeriksaan penumpang liar di atas kereta api.
Pemeriksaan penumpang yang tidak memiliki tiket ini untuk mendukung tercapainya program angkutan penumpang yang lebih baik sekaligus angkutan Lebaran 2007 dan Tahun Baru 2008.
Demikian dikatakan Kepala Divisi Regional I Sumut dan NAD Drs Mulianta Sinulingga MsTr melalui Kahumasda H. Suhendro Budisantoso SSos kepada wartawan di Medan, Jumat (21/9).
Menurutnya, pemeriksaan ini dilakukan bekerjasama dengan Pabin Polsuska dan Kasubsi Kamtib serta bagian kehumasan.
“Penumpang yang naik dan tidak mempunyai karcis ataupun menggunakan karcis yang sudah habis masa berlakunya dikenakan suplisi sebesar dua kali lipat dari harga tiket. Apabila menolak membayar akan diturunkan dari kereta api di stasiun pemberhentian terdekat atau sesuai STP I Pasal 17 ayat 2 dan R.18/1 Pasal 15,” sebut Suhendro.
Lebih lanjut dikatakan Suhendro, aturan tersebut juga diperkuat dengan Undang-undang No. 23/2007 tentang perkeretaapian. Di mana setiap orang yang tanpa hak berada atau bagian kereta yang diperuntukkan bukan untuk penumpang dipidana penjara paling lama tiga bulan dan/atau pidana denda paling banyak Rp15 juta.
PATUHI
Untuk itu, pihaknya berharap agar masyarakat mematuhi peraturan ini agar pengoperasian kereta api dapat berjalan lancar dan lebih baik.
Sementara sebelumnya, Senin (17/9) PT Kereta Api bersama rekanan kerja menambah personil restorasi untuk pelayanan penjagaan pintu masuk dan keluar kereta api.
Layanan tambahan yang berlaku seterusnya ini diharap mampu memaksimalkan kelancaran perjalanan kereta api.
Selain membantu para penumpang dapat naik kereta api dengan mudah, tambahan personil ini juga diharapkan dapat mencegah penumpang yang tidak memiliki tiket, pedagang asongan dan pengamen.
“Kebijakan ini juga upaya PT KA dalam meningkatkan kelancaran dan keamanan penumpang selama dalam perjalanan,” ujarnya (www.analisadaily.com/K07)

Comments

Masa Lebaran, Kondisi Jalan Rel Daop II Bebas “Taspat”

_1190813188.jpg

Perjalanan KA selama periode Lebaran di Daop II Bandung dipastikan bebas dari Pembatasan Kecepatan atau TASPAT, terutama untuk koridor KA Parahiyangan dan Argo Gede. Hal ini dimungkinkan, karena pihak Jalan Rel dan Jembatan di Daop II Bandung telah berkoordinasi dengan pihak Satuan Kerja (Satker) Peningkatan dan Pengembangan Prasarana Perkeretaapian Jawa Barat, sehingga selama masa angkutan lebaran aktivitas pekerjaan perawatan jalan rel yang memerlukan Taspat dihentikan. “Dari 3 Oktober 2007 s/d 23 Oktober 2007, kegiatan pekerjaan Satuan Kerja Prasarana KA dihentikan. Selanjutnya, sebagian tenaga kerja di Proyek Satker juga kami minta untuk siaga di titik-titik yang rawan gangguan dan kemungkinan tindak kriminalitas,” demikian dikemukakan Kasi Jalan Rel dan Jembatan Daop II Bandung, Sinung Tri Nugroho saat ditemui di ruang kerjanya, Gedung Dewi Sartika, Jl. Pasir Kaliki Bandung (27/9).

Saat ini menurut Sinung, pada lintasan KA Daop II Bandung terdapat tiga lokasi pekerjaan rehabilitasi jalan rel oleh Satuan Kerja Peningkatan dan Pengembangan Prasarana KA Jabar, serta dua lokasi rehabilitasi jalan rel oleh pihak organik PT KA Daop II Bandung. “Pada lima lokasi pekerjaan itu saat ini dipasang Taspat, tetapi selama 3 Oktober 2007 s/d 23 Oktober 2007, pada lima titik itu bebas dari Taspat. Lokasi bekas kecelakaan KA antara Cirahayu – Warungbandrek, daerah Garut yang selama ini dibatasi dengan Pk 5 Km/Jam, juga ditingkatkan menjadi 20 Km/Jam,” tegas Sinung yang juga akan meningkatkan Pemeriksaan Jalan KA dengan Juru Periksa Jalan Ekstra di beberapa daerah rawan selama masa angkutan Lebaran 2007. “JPJ Ekstra kami persiapkan di 13 Lokasi, antara lain 7 JPJ Ekstra untuk lintasan KA antara Purwakarta – Padalarang,” tambahnya.

Selain itu, peningkatan pengawasan juga akan dilakukan di beberapa jembatan, serta terowongan KA. Pengawasan ekstra juga akan dilakukan terhadap perjalanan KA yang berhadapan dengan waktu antar KA yang lama. Misalnya, untuk perjalanan KA Harina Bandung – Semarang, yang sebelum KA Harina lewat lintasan yang akan dilalui senggang. “Jadi, selain fokus pada titik rawan, kami juga fokus pada waktu rawan. Untuk memperkuat tenaga pemeriksaan dan pengawasan jalan rel, kami dibantu oleh tenaga dari Satuan Kerja Prasarana KA,” ujar Sinung. Sedangkan terhadap perlintasan yang padat lalulintas pada masa Lebaran, juga akan dilakukan penjagaan berkerjasama dengan masyarakat setempat. “Kita siapkan tenda, serta fasilitas pengamanan seperlunya, sedangkan tenaga penjaganya akan dibantu masyarakat secara swadaya,” tambah Sinung seraya mengungkapkan bahwa pengawasan juga akan dilakukan di titik rawan longsoran batu gunung, yaitu antara Nagrek – Lebakjero. “Meskipun berbagai usaha telah kami lakukan, namun upaya do’a juga selalu kami lakukan agar segala upaya kita selalu mendapat dukungan dari Allah SWT,” katanya.

Comments