Kala Grafiti Mendapat Ruang
BIASANYA seni grafiti yang “mendiami” sejumlah tembok dan pilar di Kota Bandung menjadi musuh besar Dinas Pertamanan Pemkot Bandung. Coreng-moreng penuh warna itu sering kali tidak beraturan dan “singgah” di mana saja hingga akhirnya harus dibersihkan.
Namun, Jumat (28/9) kemarin, puluhan orang dibiarkan mengisi kekosongan tembok putih di jembatan Stasiun Timur Jln. Stasiun Timur Kota Bandung dengan cat berwarna-warni. Bahkan, masing-masing peserta ataupun kelompok diberi tempat khusus sebagai ”daerah kekuasaan” sehingga tidak saling mencaplok jatah orang lain.
Ternyata, sekitar 72 kelompok yang masing-masing terdiri atas 3-5 orang itu sedang mengikuti lomba grafiti yang digelar PT Kereta Api dalam rangka HUT ke-62 PT KA. Tema yang diambil dalam lomba itu yaitu stasiun pelangi, yang menggambarkan citra kereta api dalam memberi pelayanan bagi semua kalangan masyarakat.
Citra estetik dari “seni jalanan” itu, nyatanya digemari semua kalangan. Mereka yang ikut lomba berasal dari kalangan masyarakat umum, mahasiswa, seniman lukis, dan seniman jalanan. Tidak hanya itu, sejumlah siswa asing yang sedang mengikuti studi di STSI jurusan Seni Rupa juga ikut serta, di antaranya dari Serbia, Yunani, dan Italia.
Kata ”grafiti” berasal bahasa Italia, ”graffito”. Dalam bahasa Inggris, “graphic” dan bahasa Yunani “graphein” yang artinya “menulis”. Grafiti kemudian meluas menjadi manusia yang membuat tanda, ikon, seni gambar ataupun kata-kata.
Coretan yang dibuat untuk menyampaikan pesan tertentu ditampilkan dalam komposisi bentuk. Biasanya, itu dipilih oleh mereka yang sulit mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Setidaknya definisi itulah yang terpikirkan oleh Yudi, mahasiswa Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tentang seni grafiti.
Bersama ketiga rekannya, Yudi mengambil tema grafiti “Kereta Api Menuju Globalisasi”.
Dengan gambar kereta api besar, simbol globalisasi yang dimaksud yaitu keberadaan penumpang yang multietnis dan multiprofesi. Namun, melihat media tembok yang akan diberi coretan itu bertekstur, maka konsep yang sudah mereka pikirkan menjadi berubah. “Konsep yang udah dibuat jadi sulit diterapkan. Sekarang, kita bikin aja seadanya, itung-itung berekspresi lewat gambar yang kita bikin,” ujarnya.
Lain lagi tema yang diambil Rendra (30). Seniman lukis yang juga salah seorang murid almarhum pelukis ternama Barli Sasmitawinata itu menggambarkan grafiti dalam bentuk orang-orang yang sedang antre sambil main “kakaretaan” dengan tangan di pundak orang di depannya.
Menurut dia, hal itu menyimbolkan budaya antre yang dilakukan kereta api sejak dulu. “Sebanyak apa pun gerbong yang dimiliki kereta api, tetap saja mereka antre saat dijalankan dan tidak pernah ada yang berebutan ataupun saling menyalip. Filosofi itu yang harusnya juga dimaknai oleh para penumpangnya,” ungkap Rendra.
Peserta diberi waktu hingga Minggu (30/9) pukul 10.00 WIB untuk menyelesaikan grafitinya. Pemenangnya akan meraih Rp 5 juta. (Dikutip K.07 dari PR 29 Sept 07)
